Nasionalisme Kini: Merajut Kekuatan, Menghalau Perpecahan
Nasionalisme, sebuah konsep yang tak lekang oleh waktu, adalah cinta mendalam pada bangsa dan tanah air, yang melahirkan rasa persatuan dan identitas bersama. Di tengah arus globalisasi dan dinamika sosial yang kian cepat, gaungnya masih relevan dan kerap menjadi sorotan utama. Namun, bagaimana kita menempatkan nasionalisme di era modern ini?
Pada intinya, nasionalisme adalah pilar penyatu. Ia mendorong masyarakat untuk bergotong royong membangun negara, menjaga kedaulatan, dan melestarikan budaya luhur. Semangat ini vital dalam menghadapi tantangan eksternal, memupuk optimisme kolektif, dan menggerakkan roda pembangunan demi kemajuan bangsa yang berdaulat dan bermartabat.
Namun, seperti dua sisi mata uang, nasionalisme juga memiliki sisi gelap. Ketika terlalu ekstrem dan sempit, ia bisa berubah menjadi chauvinisme atau xenofobia, menumbuhkan kebencian terhadap bangsa lain, dan memicu konflik internal maupun eksternal. Sejarah mencatat banyak tragedi yang berawal dari nasionalisme buta yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan universal dan persaudaraan.
Maka, tantangan kita adalah bagaimana merawat nasionalisme yang sehat dan inklusif. Nasionalisme harus menjadi energi positif yang memperkuat persatuan internal dan identitas kebangsaan, tanpa menutup diri dari kerja sama global dan penghargaan terhadap keberagaman. Ini bukan alat untuk memecah belah, melainkan jembatan menuju masa depan bangsa yang kuat, harmonis, dan dihormati di kancah dunia.