Bung Tomo: Api Semangat Surabaya yang Tak Pernah Padam
Sutomo, lebih dikenal sebagai Bung Tomo, adalah nama yang melekat erat dengan heroiknya Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Sosoknya bukan hanya seorang pejuang, melainkan simbol keberanian dan suara rakyat yang membakar semangat kemerdekaan Indonesia.
Lahir di Surabaya pada tahun 1920, Bung Tomo muda sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia jurnalistik dan pergerakan. Ia aktif dalam berbagai organisasi pemuda, membentuk dasar kepemimpinannya yang karismatik. Semangat patriotisme telah tertanam kuat dalam dirinya jauh sebelum namanya dikenal luas.
Puncak kiprahnya terjadi saat agresi Sekutu pasca-proklamasi kemerdekaan. Melalui corong radio, suara Bung Tomo yang berapi-api berhasil menggerakkan ribuan rakyat dan pemuda Surabaya untuk bangkit melawan, bersumpah untuk mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan. Pidatonya yang legendaris menjadi inspirasi bagi perjuangan fisik bangsa.
Setelah kemerdekaan, Bung Tomo tetap berkiprah. Ia sempat terjun ke dunia politik dan jurnalistik, namun sifat kritisnya terkadang membawanya pada persinggungan dengan kekuasaan. Pada masa Orde Baru, ia pernah ditahan karena kritik-kritiknya yang tajam. Ia menghembuskan napas terakhirnya di Mekkah pada tahun 1981 saat menunaikan ibadah haji.
Meskipun telah tiada, warisan Bung Tomo tetap hidup. Ia dikenang sebagai orator ulung, pahlawan yang menyatukan rakyat dengan kata-kata, dan ikon perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa. Semangat ‘Merdeka atau Mati’ yang ia gaungkan akan selalu menjadi pengingat akan harga sebuah kemerdekaan.