Bukan Sekadar Kisah Pilu: Kekerasan pada TKW, Luka di Balik Devisa
Tenaga Kerja Wanita (TKW) seringkali disebut pahlawan devisa negara, namun di balik sumbangsih besar mereka, tersembunyi realitas kelam: kekerasan dan eksploitasi. Fenomena ini bukan lagi sekadar cerita pilu, melainkan luka sistemik yang mendalam.
Kekerasan terhadap TKW mencakup berbagai bentuk, mulai dari fisik (pemukulan, penyiksaan), psikis (ancaman, isolasi, merendahkan martabat), seksual (pelecehan hingga perkosaan), hingga ekonomi (penahanan gaji, dokumen, jam kerja tak manusiawi). Mereka seringkali terjebak dalam kondisi yang sangat rentan, jauh dari keluarga, dengan kendala bahasa, serta minim akses ke bantuan hukum atau perlindungan.
Penyebabnya beragam: ketidakseimbangan kekuasaan antara majikan dan pekerja, lemahnya pengawasan dari agensi penyalur, hingga celah hukum di negara penerima. Akibatnya, banyak TKW mengalami trauma mendalam, cedera fisik, bahkan kehilangan nyawa, sementara keadilan seringkali sulit mereka raih.
Sudah saatnya kita melihat ini bukan hanya sebagai kasus individu, melainkan masalah kemanusiaan yang mendesak. Perlindungan yang lebih kuat, pengawasan yang ketat terhadap agen dan majikan, serta edukasi tentang hak-hak pekerja migran adalah langkah krusial. Memastikan keselamatan dan martabat TKW adalah tanggung jawab kita bersama, agar pahlawan devisa ini tidak lagi harus menanggung luka di balik pengabdian mereka.