Literasi Digital: Membaca Tak Pernah Mati, Hanya Berevolusi
Budaya membaca di tengah gempuran era digital seringkali menjadi topik perdebatan. Banyak yang beranggapan minat baca kian tergerus oleh distraksi media sosial dan hiburan instan. Namun, faktanya, budaya baca tidak mati, melainkan beradaptasi dan bertransformasi ke bentuk yang lebih dinamis.
Tantangan memang nyata; rentang perhatian yang memendek dan banjir informasi memerlukan selektivitas lebih. Kendati demikian, inilah saatnya kita mendefinisikan ulang makna "membaca". Kini, membaca tak lagi terbatas pada buku fisik. E-book, audiobook, artikel daring, hingga konten edukasi di platform digital adalah wujud baru dari kegiatan literasi. Aksesibilitas menjadi kunci, memungkinkan lebih banyak orang menjangkau ilmu dan cerita kapan saja, di mana saja.
Maka, fokusnya bergeser: bukan lagi sekadar kuantitas buku yang dibaca, melainkan kualitas pemahaman dan kemampuan memilah informasi di lautan digital. Budaya baca modern adalah tentang literasi digital yang kuat, kritis, dan adaptif. Ini adalah investasi tak ternilai bagi individu dan kemajuan bangsa, memastikan kita tetap cerdas dan relevan di masa depan yang terus berubah.