Bukan Sekadar Tangkap: Luka di Balik Penegakan Hukum
Penangkapan adalah proses krusial dalam sistem peradilan, bertujuan mengamankan terduga pelaku kejahatan. Namun, di balik urgensi tersebut, seringkali terselip praktik kekerasan berlebihan yang menodai integritas penegakan hukum.
Kekerasan saat penangkapan bukan hanya soal perlawanan dari pihak terduga. Lebih jauh, ini mencakup penggunaan kekuatan yang tidak proporsional—seperti pemukulan, tendangan, atau perlakuan kasar lainnya—pada individu yang sudah tak berdaya, tidak melawan secara signifikan, atau bahkan saat sedang dalam proses pemborgolan. Praktik ini adalah penyalahgunaan wewenang yang serius.
Dampaknya sangat merusak. Kekerasan semacam ini tidak hanya melanggar hak asasi manusia dasar, tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum. Korban bisa mengalami trauma fisik dan psikologis yang mendalam, bahkan tanpa terbukti bersalah. Selain itu, insiden kekerasan dapat memicu amarah publik dan memperburuk citra institusi yang seharusnya melindungi masyarakat.
Penting bagi setiap proses penangkapan untuk dilakukan secara profesional, proporsional, dan manusiawi. Pelatihan ketat, pengawasan internal yang efektif, serta akuntabilitas bagi oknum yang menyalahgunakan kekuasaan adalah kunci untuk mencegah "luka" ini terus terjadi. Keadilan harus ditegakkan dengan integritas, bukan dengan kekerasan yang melukai martabat manusia.