Api dalam Botol: Kisah Koktail Molotov yang Membara
Koktail Molotov, atau sering disebut bom molotov, adalah sebuah senjata pembakar improvisasi yang sederhana namun sangat merusak. Terdiri dari botol kaca berisi cairan mudah terbakar, alat ini telah menjadi simbol perlawanan, kekacauan, dan bahaya.
Nama ‘Molotov’ sendiri berawal dari Perang Musim Dingin (1939-1940) antara Finlandia dan Uni Soviet. Tentara Finlandia menjulukinya ‘koktail Molotov’ sebagai ejekan terhadap Menteri Luar Negeri Soviet Vyacheslav Molotov, yang mengklaim bom pembakar Soviet adalah ‘paket makanan’ untuk warga Finlandia. Finlandia membalas dengan ‘minuman’ untuk menemani ‘makanan’ tersebut.
Struktur dasarnya sangat sederhana: botol kaca, diisi dengan cairan mudah terbakar seperti bensin atau alkohol, dan sumbu dari kain yang menyerap cairan. Saat dilemparkan dan pecah, cairan menyebar dan sumbu yang terbakar memicu api yang cepat menyambar.
Meskipun sederhana, koktail Molotov telah digunakan dalam berbagai konflik dan demonstrasi di seluruh dunia. Ia menjadi senjata pilihan bagi pihak yang tidak memiliki akses ke persenjataan canggih, seringkali digunakan untuk menghambat pergerakan musuh, merusak kendaraan, atau menciptakan kekacauan dalam aksi protes.
Namun, di balik kesederhanaannya, bahaya koktail Molotov sangat besar. Penggunaannya berpotensi menyebabkan kebakaran tak terkendali, cedera parah bahkan kematian bagi pelaku maupun korban tak bersalah. Oleh karena itu, di banyak negara, pembuatan, kepemilikan, dan penggunaan koktail Molotov adalah tindakan ilegal dengan konsekuensi hukum yang serius.
Singkatnya, koktail Molotov adalah pengingat bahwa bahkan alat yang paling sederhana pun dapat menjadi sangat merusak di tangan yang salah, meninggalkan jejak kehancuran dan bahaya yang tak terhitung.